Anggota DPRD Subang Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Luapan Sungai Cikanday di Cibago Mayang, Tegar : Ke depan, perlu ada regulasi terkait alam Subang

Lingkarselatan.com, SUBANG-Bencana alam bajir dan tanah longsor yang terjadi di Kampung Cibago desa Mayang, Kecamatan Cisalak ,Kabupaten Subang menjadi atensi semua pihak.

Hingga saat ini masyarakat terdampak bencana di wilayah Subang itu masih memerlukan bantuan baik dari pemerintah maupun kalangan masyarakat lainnya. 

Melihat kondisi tersebut, Anggota DPRD Subang dari Dapil 2 sekaligus politisi muda Partai Gerindra, Tegar, selain menyampikan duka cita,  dan bentuk kepedulian ditunjukkan oleh Tegar dengan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak bencana melalui Posko penanggulangan bencana.

“Hari ini saya datang ke sini untuk menyerahkan bantuan kepada saudara saudara kita yang terdampak bencana di Kampung Cobago, ” ujar Tegar.

Bantuan berupa makanan, alat tidur, serta beberapa sak semen untuk membantu perbaikan darurat rumah warga. Ia berharap bantuan sederhana tersebut dapat sedikit meringankan beban masyarakat yang sedang berupaya bangkit dari musibah.

“Bantuan hari ini ala kadarnya, saya punya sedikit rezeki lebih. Semoga bisa sedikit meringankan warga,”harapnya.

Tegar menyampaikan rasa bela sungkawa dan keprihatinannya atas kejadian yang menimpa warga.

“Saya turut bela sungkawa atas kejadian kemarin. Debit air cukup tinggi, sementara saluran air kurang mumpuni, sehingga berdampak kepada rumah warga di bantaran sungai,” ujarnya.

Ia juga menegaskan DPRD Subang bersama Pemerintah Daerah Subang akan terus hadir dan melakukan langkah-langkah penanganan maupun pencegahan. Dia menyebut pentingnya turun langsung ke lapangan untuk memastikan apa saja kebutuhan warga dan apa langkah terbaik yang harus segera dilakukan.

“Yang pasti, kami DPRD Subang bersama Pemda terus memperhatikan dan mengecek langsung wilayah terdampak. Apa yang harus dilakukan, kami bersama pemerintah akan memenuhi kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Menurut Tegar, wilayah Subang Selatan memiliki kondisi geografis yang rawan karena berada di daerah pegunungan. Dia mengungkapkan kejadian seperti luapan air atau longsoran kecil di bantaran sungai sering diawali oleh kondisi di bagian hulu, yang dalam istilah Sunda disebut “Nyitu Hiang”.

“Artinya ada longsor di bantaran sehingga menyumbat aliran. Saat musim kering masih bisa bertahan, tapi saat debit air tinggi bisa jebol dan akhirnya air tidak terkontrol ke arah permukiman,” jelas Tegar.

Dia juga menghimbau masyarakat untuk lebih aktif memantau kondisi alam di sekitar, terutama wilayah perbukitan yang jarang terjamah. Dari sisi regulasi, dia menilai perlu adanya aturan yang lebih tegas untuk menjaga kelestarian alam di Subang Selatan yang memiliki banyak tebing curam dan daerah rawan.

Menurutnya, dampak kerusakan lingkungan di bagian selatan akan berimbas hingga wilayah Pantura, sehingga pengelolaan lingkungan harus menjadi perhatian serius.

“Ke depan, perlu ada regulasi terkait alam Subang Selatan, karena kalau terjadi sesuatu, alirannya sampai ke Pantura dan dampaknya bisa sangat panjang,” pungkasnya (red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *