Lingkarselatan.con, SUBANG – Pemerintah Kabupaten Subang bersama Tim Peneliti Universitas Mandiri menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai tindak lanjut sekaligus konfirmasi hasil penelitian bertajuk “The Subang Way Dekonstruksi Public Value Management Berbasis Etika Ruwat Bumi dalam Transformasi Birokrasi Pelayanan Publik di Kabupaten Subang.
Kegiatan berlangsung pada Selasa (14/7/2026) di Ruang Rapat Bapperida Subang ini menjadi forum strategis untuk menghimpun masukan, klarifikasi, validasi, dan penguatan terhadap hasil penelitian yang mengangkat nilai-nilai lokal Ruwat Bumi sebagai fondasi dalam membangun tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik yang berorientasi pada public value.
Kepala Bapperida Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, mengatakan materi mengenai arah transformasi tata kelola pemerintahan di Kabupaten Subang.
Menurutnya, Inovasi birokrasi perlu didukung oleh nilai nilai lokal yang telah tumbuh dan hidup di tengah masyarakat sehingga mampu menciptakan pelayanan publik yang lebih adaptif, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Selanjutnya, narasumber dari Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Subang menyampaikan paparan mengenai penguatan Reformasi Birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik dari perspektif Pemerintah Daerah Kabupaten Subang.
Materi tersebut menekankan pentingnya penguatan tata kelola organisasi sebagai bagian dari upaya mewujudkan birokrasi yang profesional, efektif, dan akuntabel.
Sementara itu, Dr. Ir. Edi Askari, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat sekaligus akademisi Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang (UNSUB), memberikan analisis terhadap rancangan kerangka konseptual penelitian “The Subang Way”.
Menurut Edi, analisis tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan konsep agar memiliki landasan akademik yang kuat sekaligus relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
FGD juga dihadiri oleh perwakilan BKPSDM Kabupaten Subang, Inspektorat Daerah Kabupaten Subang, tokoh masyarakat Kelurahan Dangdeur yang masih aktif melestarikan tradisi Ruwat Bumi, serta unsur Pemerintah Kelurahan Dangdeur.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam penyusunan model transformasi birokrasi berbasis pada kearifan lokal.
“Melalui forum ini, hasil penelitian diharapkan menjadi semakin komprehensif dan implementatif. Konsep “The Subang Way” tidak hanya diposisikan sebagai hasil kajian akademik, tetapi juga sebagai model transformasi birokrasi yang dapat diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, ” ujar Kepala Bapperida Subang, Iwan Syahrul Anwar kepada awak media.
Ia berharap, kedepa “The Subang Way” diharapkan mampu menjadi salah satu model transformasi birokrasi yang memperkuat tata kelola pemerintahan, mendorong Reformasi Birokrasi yang berkelanjutan, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kabupaten Subang melalui pendekatan yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal. (Red/Rils)

