Lingkarselatan.com, SUBANG- Menyusul ramainya pemberitaan di media sosial terkait dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah kotoran sapi, pihak PT APS yang berlokasi di Desa Curugrendeng, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, memberikan klarifikasi. Perusahaan menegaskan bahwa video yang beredar dan sempat meresahkan masyarakat merupakan rekaman lama dan tidak mencerminkan kondisi saat ini.
Kepala WWTP PT APS, Hasanudin, menjelaskan bahwa video tersebut diambil sekitar empat bulan lalu oleh salah satu karyawan perusahaan. Ia menegaskan lokasi pengambilan gambar berada di area internal perusahaan, tepatnya di bak penampungan limbah, bukan di aliran sungai atau lingkungan permukiman warga.
“Video itu diambil sekitar empat bulan yang lalu oleh salah satu karyawan kami, dan kebetulan diambil di lingkungan perusahaan tepatnya di bak penampungan, jadi bukan di sungai sekitar pemukiman warga,” ujar Hasanudin.
Ia menambahkan bahwa PT APS telah mengantongi standar dan izin pengelolaan limbah dari dinas terkait. Menurutnya, perusahaan menerapkan sistem pengolahan limbah yang terstruktur dan berlapis untuk memastikan tidak terjadi pencemaran lingkungan.
“Ada lima sampai enam tahapan pengolahan, dimulai dari kandang hingga limbah tersebut menjadi limbah padat dan limbah cair. Limbah padat diolah menjadi pupuk kandang, sementara limbah cair diproses melalui sistem sirkulasi. Tidak ada limbah padat yang dibuang keluar, apalagi ke aliran sungai warga, itu tidak mungkin,” tegasnya.
Hasanudin juga menjelaskan bahwa PT APS memiliki dua lagoon atau bak penampungan limbah dengan kapasitas besar. Masing-masing memiliki kedalaman sekitar 14 meter dan 9 meter dengan diameter kurang lebih 20 meter. Saat ini, satu lagoon aktif digunakan, sementara satu lainnya masih kosong sebagai cadangan, terutama untuk mengantisipasi peningkatan volume saat musim hujan.
“Yang dinilai masyarakat soal over kapasitas itu tidak benar. Buktinya, satu lagoon masih kosong dan siap digunakan jika diperlukan,” jelasnya.
Selain memastikan pengelolaan limbah berjalan sesuai standar, PT APS juga memanfaatkan hasil olahan limbah padat sebagai pupuk kandang. Setiap hari, produksi pupuk mencapai tiga truk yang kemudian didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan Kalimantan. (Red/*)

