OPINI: Hari Pers Nasional Ujian Nyata Pers Daerah di Tengah Tekanan Zaman

Hari Pers Nasional kembali diperingati. Namun di balik seremoni dan ucapan selamat, ada pertanyaan yang layak diajukan dengan jujur: seberapa sehat pers kita hari ini, terutama di daerah?

Tema tahun ini, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” menyimpan idealitas yang sulit dibantah. Pers yang sehat memang menjadi syarat penting bagi demokrasi yang waras dan pembangunan yang berpihak pada rakyat. Tetapi realitas di lapangan—terutama bagi media lokal seperti di Subang—tidak selalu seindah tema.

Disrupsi digital telah mengubah lanskap media secara drastis. Pendapatan iklan menyusut, perhatian publik tersedot platform global, sementara kecepatan informasi sering mengalahkan kedalaman verifikasi. Media daerah menghadapi tekanan berlapis: keterbatasan sumber daya, pasar iklan yang sempit, hingga godaan kompromi dengan kepentingan tertentu demi bertahan hidup.

Di titik inilah makna pers sehat menjadi relevan untuk diuji, bukan sekadar dirayakan. Pers yang sehat tidak cukup hanya bebas dari intervensi politik. Ia juga harus mandiri secara ekonomi, teguh secara etika, dan konsisten melayani kepentingan publik. Tanpa fondasi itu, fungsi kontrol sosial mudah melemah, dan ketika kontrol melemah, ruang gelap kekuasaan perlahan membesar.

Dalam konteks Subang, peran pers lokal terasa sangat konkret. Media daerah hadir bukan hanya untuk memberitakan, tetapi untuk mengawasi layanan publik, mengangkat suara warga desa, menyoroti banjir yang berulang, pendidikan yang timpang, hingga kebijakan yang kerap jauh dari kebutuhan masyarakat. Pers daerah adalah saksi sekaligus pengingat agar pembangunan tidak berjalan tanpa arah.

Karena itu, berbicara tentang ekonomi berdaulat tidak bisa dilepaskan dari kedaulatan informasi. Ketika media bergantung penuh pada kekuatan modal atau kepentingan tertentu, independensi menjadi rapuh. Sebaliknya, media yang memiliki daya tahan ekonomi akan lebih berani menjaga jarak dari kekuasaan dan tetap berpihak pada publik.

Tantangan berikutnya datang dari kecerdasan buatan dan banjir konten digital. Produksi informasi menjadi semakin cepat dan murah, tetapi kualitas tidak otomatis terjaga. Di tengah arus ini, nilai dasar jurnalistik; verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab, justru semakin penting. Pers dituntut beradaptasi tanpa kehilangan nurani.

Hari Pers Nasional semestinya menjadi momen refleksi, bukan sekadar perayaan. Pers, terutama di daerah, perlu memperkuat profesionalisme, memperbaiki model bisnis, dan membangun kembali kepercayaan publik yang mulai tergerus oleh hoaks, sensasi, dan polarisasi informasi.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang kuat hanya mungkin berdiri di atas masyarakat yang mendapat informasi jernih. Dan informasi jernih hanya lahir dari pers yang sehat—secara etika, ekonomi, maupun keberanian bersikap.

Bagi Subang, harapan itu sederhana namun mendasar:pers yang tetap dekat dengan rakyat, berani mengkritik tanpa kebencian, dan setia pada kebenaran meski tidak selalu menguntungkan.
Selamat Hari Pers Nasional.

Semoga pers tetap tegak di tengah tekanan, tetap jernih di tengah kebisingan, dan tetap menjadi penjaga akal sehat publik.

Penulis :Annas Nashrullah, Jurnalis Media Online Lokal di Kabupaten Subang

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *